Salah satu kritik utama terhadap NFT adalah konsumsi energi yang diperlukan untuk mencetak dan memperdagangkannya, yang disebabkan oleh proses penambangan di blockchain. NFT dibangun di jaringan blockchain, dan proses pencetakan serta perdagangannya memerlukan penggunaan daya komputasi untuk memverifikasi transaksi dan membuat blok baru di blockchain. Proses ini disebut "penambangan" dan memerlukan banyak energi.
Kritikus berpendapat bahwa konsumsi energi yang dibutuhkan untuk penambangan NFT adalah pemborosan dan berkontribusi terhadap perubahan iklim. Mereka mengemukakan, tingginya konsumsi energi NFT tidak hanya disebabkan oleh proses penambangannya, tetapi juga karena tingginya permintaan terhadap NFT, sehingga menyebabkan lebih seringnya transaksi dan konsumsi energi yang lebih banyak.
Selain itu, beberapa orang percaya bahwa tingginya konsumsi energi NFT tidak dapat dibenarkan mengingat nilai yang diberikannya. Para kritikus berpendapat bahwa konsumsi energi yang tinggi tidak sebanding dengan nilai NFT, dan energi tersebut dapat digunakan dengan lebih baik untuk hal-hal yang lebih penting.
Di sisi lain, sebagian orang berpendapat bahwa konsumsi energi NFT tidak sepenting yang biasa digambarkan. Ini hanya sebagian kecil dari konsumsi energi industri lain seperti perbankan dan e-commerce. Mereka juga mencatat bahwa pasar NFT masih relatif kecil dan seiring berkembangnya teknologi, konsumsi energi dapat menjadi lebih efisien.
Perlu dicatat bahwa dampak NFT terhadap lingkungan masih menjadi topik perdebatan dan penelitian, dan dampak sebenarnya dari NFT terhadap lingkungan masih belum pasti. Masih banyak lagi proyek dan inisiatif yang sedang dicoba.
Proses pencetakan dan perdagangan NFT menghabiskan energi dalam jumlah besar, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dari NFT. Konsumsi energi terutama disebabkan oleh penggunaan algoritma konsensus Proof-of-Work (PoW), yang merupakan jaringan blockchain paling populer yang digunakan untuk NFT, seperti Ethereum. Algoritme ini memerlukan banyak daya komputasi untuk memverifikasi transaksi dan menghasilkan blok baru, yang pada gilirannya menghabiskan banyak energi.
Kritikus berpendapat bahwa konsumsi energi yang terkait dengan penambangan NFT adalah pemborosan dan berbahaya bagi lingkungan. Mereka menunjukkan bahwa konsumsi energi yang tinggi menyebabkan peningkatan emisi karbon, yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Beberapa orang juga percaya bahwa dampak lingkungan dari NFT tidak sebanding dengan nilainya dan konsumsi energi dapat dimanfaatkan dengan lebih baik.
Di sisi lain, pendukung NFT percaya bahwa NFT memiliki dampak yang relatif kecil terhadap lingkungan dibandingkan dengan industri lain, dan konsumsi energi diperlukan untuk menjamin keamanan jaringan blockchain. Mereka juga mencatat bahwa konsumsi energi NFT menurun seiring waktu karena jaringan blockchain beralih ke algoritma konsensus yang lebih hemat energi seperti proof-of-stake (PoS).
Apapun perspektifnya, perlu dicatat bahwa industri NFT masih relatif baru, dan seiring dengan berkembangnya teknologi dan kasus penggunaan, solusi baru mungkin muncul untuk mengurangi dampak lingkungan dari NFT.